Saat Kita Seorang Nelayan, Jangan Ada Kekuatan Apapun yang Bisa Merubah Kita Jadi Petani

Share This Story !

In Memoriam : H.Haroen Muda Indrajaya

Mantan Ketua PWI LAMPUNG

SEMANGAT dan DUNIA ku BERAWAL dari sini…

Sejak beliau muda..muda sekali, saat itu saya masih SD, beliau sering mampir di rumah saya di Jalan Singosari Enggal Bandarlampung.

Buya Harun Muda Indrajaya, adalah keponakan Ombay (nenek) saya, dan beliau dalam kesibukannya selalu mampir ke rumah saya, seperti ombay saya Jamilah Hannan yang selalu mampir bersilaturahmi ke Rumah ombay Batin orang tua Buya Harun Muda Indrajaya yang berada di Penengahan tak jauh dari Rumah Sakit Umum Abdul Muluk, tempat Buya Harun di besarkan.

Dunia Jurnalis, Buya Harun”meracuni” juga kakak saya, Syahlan Bhaytansyor, yang selesai SMA nya langsung merantau ke Jakarta pada 1980 dan kuliah di Sekolah Tinggi Publistik, lulus..kemudian berkiprah di Suara Karya bertahun tahun dan berakhir di Berita Kota, menjelang wafatnya.

Begitulah pengaruhnya Buya Harun Muda Indrajaya terhadap kehidupan Saya dan kakak saya.

Kenangan terhadap Pemberi Semangat dan Tauladan Buya Harun Muda Indrajaya, Tokoh Pers Lampung.

Tahun 98 aku baru dua tahun berkiprah di Harian Jambi Independent..yang saat itu masih bernama Independent saja, salah satu grup jawa post yang ada di sumatra.

Pada tahun sembilah puluh delapan itu pula, aku mendapat kabar salah satu media lokal bernama Tamtama akan bergabung dengan Jawa Pos, mendengar hal itu aku sangatlah bersemangat dan aku mengucapkan selamat atas bergabungnya Tamtama milik Buya Harun Muda Indrajaya.

Namun tidak sampai di situ…atas ijin manajemen Jambi Independent aku di minta untuk memulai dengan lingkungan koran baru, yang bernama Tamtama, yang saat itu masih di rumah sewaan di depan Radar Lampung sekarang.

Perjalanan Tamtama semakin eksis, di sana ada Fajrun Najah Ahmad, Supriyadi Alfian, Novriwan

, Zabidi Yakub dan teman teman yang lain..sebagai GM saat itu Mas Priyo Susilo..dan Buya Harun Muda Indrajaya langsung sebagai Pimred.

Walau sebagai Pimred, Buya menyerahkan bulat bulat persoalan keredaksian kepa Fajrun Najah Ahmad dan Supriyadi Alfian (yang kemudian menjadi Ketua PWI Lampung 2005) dan pada hal hal yang urgen baru Buya HMI yang mengambil keputusan, kami bekerja begitu nyaman, eksistensi Tamtama semakin bagus, yang kemudian berubah menjadi Lampung Ekspres.

Namun ditahun 2000 tanpa kami duga duga, ada persoalan yang terjadi dengan Lampung Ekspres, karena hal ini memang tak Kami duga, dengan alasan yang tak jelas dinyatakan mesin cetak tak dapat digunakan.

Untuk kelanjutan Lampung Ekspres saya bersama Umi Megawati ke Lampung Post untuk membicarakan “numpang” cetak dengan Bambang Eka Wijaya, namun tidak menemui kesepakatan, dan akhirnya pada saat itu, tetap di bawah komando Priyo Susilo dan buya HMI akhirnya kami menumpang cetak di SUMEKS.

Proses terus berjalan, ternyata Jawa Post memutuskan kerjasama dengan Lampung Ekspres, tanpa saya tahu sebabnya, akhirnya dalam kebimbangan untuk kembali ke jambi atau mengikuti Buya HMI, saya ambil pilihan ke dua, ikut Buya HMI, kami pindah ke gedung Kaca di Diponegoro.

Perlahan lahan, kawan kawan pergi dari Kami, Mas Yanto, Mas Priyo Susilo dan beberapa teman yang lain pindah ke Radar Cirebon, Kami terus berjuang bersama Buya Harun Muda Indrajaya untuk terus hidup di Lampung Ekspres, yang harus seperti memulai dari Nol kembali, dan harus mencetak ke Sumeks hanya sebagai Mitra bukan grup lagi.

Namun Lampung Ekspres tetap eksis sampai saya kembali ke Jambi Indpendent di tahun 2001.

Hal yang bertahun tahun yang menjadi pertanyaan saya, baru terjawab, 5 tahun yang lalu (2015), ketika saya bertemu dan ngobrol dengan Buya HMI di kantornya.

Beliau mengatakan mengapa kerjasamanya tak berlanjut dengan Jawa post, karena Bapak Dahlan Iskan memintanya untuk tidak terlibat dalam urusan berita, namun Buya HMI bertahan dengan komitmennya untuk terus terlibat diurusan keredaksian.

Itulah pilihan besar, seorang Buya Harun Muda Indrajaya terhadap dunia Jurnalis yang sudah menjadi bagian hidupnya, panggilan jiwa tak selesai dan berbatas, dengan keinginan orang lain.

Selamat Jalan Buya Harun Muda Indrajaya, Saat kita seorang nelayan, jangan ada kekuatan apapun yang bisa merubah kita jadi petani…selamat  jalan Buya..banyak kenangan dan tauladan kau berikan kepada Kami.

Penulis : Syahril Hannan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *