Nelayan Tradisional Di Mendahara Resah Terkait Nelayan Penyedok Menggunakan Mesin

Share This Story !

EXISTJambiNews.com ,Tanjab Timur – Dengan kondisi yang terjadi saat ini, terutama menyangkut nelayan tradisional yang berada di Kelurahan Mendahara Ilir Kecamatan Mendahara selalu resah terkait nelayan penyedok kerang yang menggunakan alat mesin malah merajalela. Sementara tindak tegas yang di harapkan nelayan tersebut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjab Timur sampai sejauh ini sama sekali belum jelas. Rabu (15/9).

Heriyanto salah seorang nelayan tradisional Kelurahan Mendahara Ilir saat dijumpai EXISTJambiNews.com mengatakan, menyangkut legalitas nelayan pada dasarnya memang ada perbedaan, seperti nelayan yang menggunakan alat tangkap sondong dan dogol alias trol, sedangkan untuk nelayan lainya. yaitu, nelayan belat pantai hingga nelayan jaring sedangkan nelayan tradisional hanya menggunakan alat tongkah untuk mencari kerang dipantai,” kata Heriyanto.

Selain tongkah atau peralatan apa adanya yang digunakan nelayan tersebut, bisa mendapatkan hasil tangkapan kerang berkisar 30 hingga 50 kg. Namun sebaliknya sejak adanya nelayan penyedok yang menggunakan alat mesin hasil yang kita dapatkan jauh berkurang, tidak menutup kemungkinan peralatan yang mereka gunakan dampaknya akan merusak ekosistem laut dengan sendirinya,habitat hewan laut seperti kerang akan bisa punah,”tegasnya dengan nada kesal.

Terpisah nelayan lainnya Piyan menambahkan, sejak adanya nelayan penyedok kerang, dampaknya malah meresahkan nelayan sondong maupun nelayan jaring, begitu juga dengan nelayan tradisional yang hanya mengharapkan kerang dipantai, malah hasil tangkapan yang mereka dapatkan jauh berkurang. Oleh sebab itu melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP red) Tanjab Timur untuk dapat menindak tegas terutama kepada nelayan penyedok kerang,” pintanya.

Sementara Lurah Kelurahan Mendahara Ilir, Saleh saat dikonfermasi Exist Jambi mengatakan, dari keresahan nelayan tersebut terkait nelayan penyedok kerang merupakan nelayan yang datangnya dari luar daerah, malah sering menimbulkan masalah. Pasalnya, alat penyedok kerang yang mereka gunakan dampaknya merusak ekosistem laut, padahal nelayan penyedok sudah sering diamankan oleh petugas kepolisian agar tidak lagi beroperasi dilaut pantai wilayah perairan Mendahara,” terang Saleh.

Sampai sejauh ini sanksi tegas dari DKP maupun dari pihak polisi perairan terkait keresahan nelayan tradisional, masih menunggu perda atau payung hukumnya seperti apa, sanksi administrasi memang sudah dilakukan, bahkan mereka pernah membuat pernyataan untuk tidak mengulang kembali, tapi kenyataanya malah mereka kini kembali beroperasi dilaut pantai perairan wilayah Mendahara dalam hal ini, pihak DKP untuk melakukan razia,” pungkasnya. (Mul).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *