Budi Graha Rumah Sakit Bersejarah, Riwayatmu Kini

Share This Story !

Existjambinews.id, Kota Jambi – Bagi warga kota Jambi tentunya sudah tidak asing dengan nama Rumah Sakit Budi Graha yang berada di kawasan Kasang Jambi Timur Kota Jambi, tak jauh dari Pertamina dan Gardu PLN. Tapi adakah yang tau bagaimana nasib RS yang pernah jaya pada masanya itu.

Ya semenjak 2011 lalu RS yang dulu pada awalnya berstatus RS bersalin ini sudah tidak beroperasi lagi. Menurut informasi yang berhasil dihimpun awak Existjambinews.id, pasien terakhir yang sempat dirawat RS itu adalah salah seorang fotografer Jambi.

Kondisi RS itu kini sudah sangat memprihatinkan. Bangunannya sudah banyak yang rusak, barang-barang inventarisnya banyak yang hilang di curi orang halamannya yang kini pagarnya telah terkunci sudah dipenuhi sesemak belukar yang meliar.
Kondisi inilah yang membuat miris dan peihatin salah seorang Hartman Manaf salah satu putra dari salah seorang pendiri RS itu yakni Reimin Manaf, istri dari Abd Manaf Gubernur Jambi ketika itu.

“Tentu kita sangat prihatin menyaksikan kondisi salah satu buah karya tangan terbesar orang tua kita, ibunda kita sudah menjadi seperti rumah hantu saat ini. asalnya dulu kita adalah saksi hidup bagaimana ibunda kita berjuang bisa mendirikan rumah sakit swasta kedua waktu itu” ujar Hartman, Sabtu (27/3/2021)

Menurut dia ada dua perempuan tangguh yang tergabung dalam organisasi Oerwani waktu itu yang berjuang mati-matian sampai berdirinya RS Budi Graha itu. Selain ibundanya satu sosok lagi adalah Nyonya Aisah Yusuf Singdengane yang merupakan istri dari Yusuf Singdengane yang juga mantan Gubernur Jambi.

Dua orang bersahabat dari Perwari Jambi ini lah yang terus getol melobi pemerintah pusat melalui ibu Tien hingga akhirnya disetujui dan sampai.mendapat bantuan peralatan. Sebenarnya selain kedua perempuan ini terdapat sebarisan perempuan tanggun lainnyanyang sering mengelar pertwmuan di salah satu gaebo rumah dinas gubernur di kawasan jalan Melati. salah satunya adalah Nyonya Pohan Arbain.
“saya ingat betul waktu itu pada tahun 1962, para ibu-ibu kita itu sering menggelar rapat sampai membuahkan hasil RS bersalin Budigraha itu.

Sementara untuk operasionalnya dibantu oleh konsorsium para pengusaha Jambi waktu itu seperti Hok Tong, Ermeling dan Niam yang sekarang bernama Pertamina,” papar Hartman.
Dalam perjalanan, lanjutnya, status RS bersalin akhirnya berubah jadi RS umum.

Dokter Wahyudi adalah dokter pertama yang memimpin RS itu.
Itulah sekelumit kisah di tahun-tahun awal berdirinya rumah sakit yang sangat memberi kesan.
Namun kisah manis kejayaan itu perlahan berubah mengikuti perkembangan zaman. Situasi itu semakin rumit ketika yayasan berpindah tangan diurus oleh salah seorang putri dari pendiri yang dalam kepemimpinannya lebih terkesan monopoli. Bahkan sebelum tutup total oleh sang ketua yayasan RS yang berdiri di atas lahan satu hektar itu sempat hendak ditukar guling, bahkan sempat hendak diubah menjadi mall.

“Itulah awal kemerosotan dan kehancuran RS bersejaran di Kota Jambi itu” pungkasnya, (ical)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *